Solusi Rugby untuk Tawuran antar SMA

Suatu hari di tahun 2007, gw sedang iseng melihat dagangan penjual DVD bajakan di daerah tebet. ‘Lapak’ DVD bajakannya kecil, hanya buka malam hari, disaat tebet makin rame dengan distro dan tempat nongkrong dan cafe nya. Mendadak gw melihat satu cover DVD film Jepang yang menampilkan adegan Rugby. Judulnya: School Wars: HERO. Dengan semangat gw langsung mengambil dan membaca ‘resensi’ singkat dibelakang DVD nya. Wow! Ternyata film itu mengenai bagaimana seorang guru di Jepang merubah suatu sekolah yang terkenal dengan kenakalan dan kekerasan remaja menjadi sekolah yang terkenal dengan kekompakan, disiplin dan kejujurannya. Dengan tidak sabar gw langsung bayar dan setengah berlari pulang ke kos.

Wait! Perlu gw kasi penjelasan dulu bahwa masih sangat sedikit film yang mengambil tema Rugby di filmnya, apalagi tahun 2007 itu. Belum ada Forever Strong, Another Winter atau bahkan INVICTUS. Bisa menemukan film Jepang ini merupakan harta karun yang tidak terduga.

Betapa sedihnya hati gw ketika mencoba film itu dan ternyata film nya ngga bisa diputar. Udah dicoba di DVD Player, ditiup, dilap dengan kaos tapi tetep ngga bisa kebaca. Cobain di computer juga ngga bisa. Gw langsung lari ke lapak itu minta ganti DVD nya. Namun sayangnya si abang jualan lapak ngga punya stock lain. Jadi itu satu satunya DVD film itu.. HIKS…

Sampai sekarang tiap nemu lapak DVD bajakan pasti nyempetin ke box film Asia untuk mencari film ini namun sampai sekarang belum ketemu. Setelah sekian lama browsing di internet, akhirnya hari ini gw menemukan keterangan filmnya!

 

“A physical education teacher assumes his new post at Fushimi first industrial high school in 1974 Kyoto. Devastated by campus violence, most of the teachers interact as little as possible with the students, but the new guy believes he can constructively channel the teens’ anger by forming a rugby team. Despite internal conflicts and setbacks, the team begins to bond, forming a type of family relationship most of them have never known and a national championship may be within their grasp. Directed by Ikuo Sekimoto with a cast that includes Shouei, Emi Wakui, Koutaro Satomi, and singer/actress SAYAKA (of Dragon Head fame), this film is based on real events.

Keren kan descriptionnya? Based on real events lho..

Sekarang sampailah kita ke tujuan awal gw tulis blog ini. (Lha? Dari tadi masih pengantar? )

Gw sangat percaya kalau rugby beneran bisa merubah hidup seseorang atau budaya suatu sekolah seperti yang ada di film School Wars: HERO itu. Gw ngga perlu nonton filmnya untuk bisa percaya hal ini bisa terjadi. Kenapa? Apa sih istimewanya Rugby?

Pernah terfikir kenapa atlet seni bela diri (martial arts)bisa sangat ‘ganas’ disaat pertandingan dan sangat baik di luar pertandingan? Kenapa? Semua seni beladiri  memiliki nilai-nilai dan kode etik (values & code of conducts) yang akan dipegang teguh oleh semua anggotanya. Gw yakin nilai-nilai mereka akan termasuk harus bisa mengontrol diri dan membela kebenaran. Contohnya saat pertandingan karate, pemain hanya akan diminta mengontrol setiap pukulan dan tendangannya untuk mendapat poin yang didapat pada kumite (duel). Apabila seorang atlet karate tidak berhasil mengontrol emosi dan serangannya, dia akan langsung didisukualifikasi.  Biasanya seni beladiri akan memiliki tingkatan yang biasa ditunjukkan dengan sabuk. Semakin tinggi tingkatannya, dia akan menjadi contoh bagi adik tingkatnya. Masih banyak cara mereka memegang teguh ‘kebudayaannya’. Perhatikan ya, dari tadi gw selalu menulis ‘Seni Beladiri’ sebagai satu kesatuan. Seni berperan sama besarnya dengan bela diri.

sumber foto: Antara news

Sementara pada olahraga permainan seperti sepakbola, bola basket, dan sebagainya, biasanya hanya akan diatur oleh peraturan permainan (rules). Bukan berarti mereka tidak memiliki Values dan code of conducts hanya saja penerapannya tidak akan sekuat olahrga seni beladiri. Contohnya FIFA sebagai induk oganisasi sepakbola intenasional berusaha terus menekankan nilai sportifitas untuk fair play, menindak tegas rasisme dan penggunaan obat terlarang. Namun hal ini tentu saja tidak gampang dilakukan. Disaat kemenangan menjadi taruhan besar, siapa (atau apa) yang bisa menahan pemain bola untuk berpura-pura terjatuh di kotak penalty untuk mendapatkan kemenangan?

Nah sekarang bayangkan olahraga permainan dengan Values dan Code of Conducts yang sangat mengatur seperti seni bela diri. Permainan Rugby menuntut fisik yang prima dan disiplin yang tinggi. Disaat Adrenaline kita terpompa dan permainan melibatkan benturan fisik, semua pemain rugby dituntut harus bisa berfikir dengan jernih dan tidak melakukan hal yang merugikan diri, team dan lawan. (Bisa dibaca tulisan gw sebelumnya mengenai Rugby untuk Indonesia)

Kok bisa?

Rugby sudah melibatkan benturan fisik. Adrenaline rush akan terlampiaskan saat kita melakukan tackle, crash atau bahkan mencetak poin Try. Kebanyakan berantem di permainan sepakbola atau bola basket adalah pelampiasan emosi dan adrenaline yang sudah tinggi.

We dont have Rules. We use LAW of the game.

Karena olahraga ini melibatkan benturan, Rugby merasa perlunya meningkatkan sistem yang mengaturnya. Kita tidak menggunakan peraturan (rules) melainkan Hukum (Law). Bayangkan suatu negara yang menggunakan hukum yang mengatur. Ada hukuman kartu kuning dan kartu merah untuk pelanggaran yang dinilai oleh sang wasit. Wasit adalah satu satunya yang berhak memegang keputusan atas hukum yang berlangsung di lapangan rugby. Hanya kapten team yang boleh berbicara kepada wasit dan kita bahkan memanggil wasit dengan sebutan ‘Sir’ untuk menghormatinya.

Siapa yang melakukan pelanggaran berat akan mendapat kartu kuning ataupun kartu merah. Kartu kuning akan berarti pemain tersebut harus keluar lapangan dalam waktu tertentu (dan kemudian masuk kembali) sementara kartu merah berarti pemain itu harus keluar untuk sisa waktu pertandingan itu. Dampaknya? Tentu saja teamnya akan kekurangan pemain. Kekurangan pemain bisa berarti sangat fatal dalam rugby yang berarti kekalahan. Jadi pemain yang akan hendak melakukan pelanggaran harus memikirkan konsekwensi akan dihujat oleh teman satu teamnya! Peer pressure!

Rugby
Principles of the game: INTEGRITY, PASSION, SOLIDARITY
Principles of the laws:  DISCIPLINE, RESPECT

Di Jakarta pada minggu ini sudah ada dua korban meninggal dunia akibat tawuran antar SMA. Siapa yang perlu disalahkan? Ya tidak perlu menyalahkan siapa siapa. Mungkin perlu disalahkan kenapa Rugby belum menjadi olahraga di SMA itu. Gw semakin bersemangat menjalankan resolusi 2012 gw untuk mempromosikan rugby di tingkatan sekolah.

Pada hari selasa kemarin, gw mengikuti pertemuan dengan beberapa perwakilan sekolah di Jabodetabek untuk bersama-sama mendukung Rugby di sekolah. Ada perwakilan dari British International School, Sekolah Pelita Harapan, Global Jaya International School, SMA Cendrawasih, SMA Labschool dan beberapa sekolah dan club di Jakarta. Sekitar 12 expatriate dan 4 orang Indonesia termasuk gw yang hadir. Kita berhasil menentukan hari dan tanggal untuk melaksanakan turnamen rugby antar SMA dan mungkin SMP dan SD (apabila ada). Its a start!

Besok gw juga ada jadwal untuk menemui salah satu wakil kepala sekolah SMA di Jakarta. Kita akan meyakinkan bahwa rugby cocok untuk sekolah mereka dan siap bantu dengan peralatan dan pelatihan untuk siswa-siswa mereka. The ball is rolling now. I have made my promise to support this movement and time to keep my promise. Time to save our high school with Rugby!

Wish us luck?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s